Prof. Bambang Sunendar Purwasasmita: Rekayasa Biologi dan Pemrosesan Material untuk Industri Indonesia

Nida Nurul Huda | Rabu, 27 - Februari - 2013, 18:45:24

Pidato yang diselenggarakan secara rutin ini tidak lain bertujuan untuk menonjolkan ITB sebagai pusat pendidikan dalam bidang teknologi dan sains. Judul  pidato yang dibawakan oleh Bambang adalah "Gagasan Rekayasa Biologi pada Pemrosesan Material Mutakhir dalam Mendukung Industri  Hulu dan Hilir yang Mandiri".

Rekaya Biologi dalam Pemrosesan Material Untuk Industri

Seperti yang dinyatakan Bambang dalam pidatonya, tuntutan untuk meningkatkan fungsi suatu produk industri berjalan seiring dengan terus berkembangnya kebutuhan manusia di berbagai pilar kehidupan meliputi kesehatan, makanan, obat-obatan, lingkungan, transportasi, pertahanan, energi, dan teknologi informasi. Untuk itu peningkatan fungsi  produk industri tidak terlepas dari pemrosesan material  sebagai bahan baku produk.

Teknologi pemrosesan material yang saat ini tengah dikembangkan adalah teknologi nano. Oleh karena itu, pemahaman dan pemanfaatan teknologi nano menjadi penting. Material yang dihasilkan dalam skala nanometer memiliki sifat yang berbeda dibandingkan dengan material yang sama namun dihasilkan dalam skala yang lebih besar. Gagasan biologi ini mempengaruhi teknologi, termasuk teknologi nano. Melalui biominetik dan biomineralisasi dihasilkan material-material yang unggul untuk industri.

Pada industri tekstil misalnya dihasilkan smart textile yang pengembangannya menghasilkan bahan tekstil anti nyamuk dan tekstil proteksi pada sinar UV. Penelitian lain pada bidang energi menghasilakan sel surya (solar cell), baterai, dan sel bahan bakar (fuel cell). Sel surya berbasis dye-sensitized memanfaatkan proses fotoelektrokimia, sama halnya seperti proses fotosintesis pada tumbuhan. Sel surya jenis ini diyakini mampu menyediakan konsep green energy dengan biaya produksi murah dan terjangkau.

Penelitian dibidang sel bahan bakar dalam hal ini tidak lain untuk mencegah ketergantungan manusia terhadap sumber energi hidrokarbon dari bahan bakar fosil. Untuk itu Hidrogen dipilih oleh Bambang sebagai bahan bakar alternatif yang bebas emisi. Hidrogen dihasilkan oleh bakteri Eschericia coli dengan menggunakan medium sisa pengolahan kayu bus, Eucalyptus Papuana. Sisa pengolahan kayu bus ini dapat menghasilkan karbon aktif sebagai media pertumbuhan bakteri E.Coli. Penelitian ini merupakan langkah awal dalam pengembangan sistem sel bahan bakar berbasis biologi.

Industri Hulu dan Hilir untuk Kemandirian Bangsa

Seperti yang telah kita ketahui, Bangsa Indonesia memiliki banyak potensi  dalam berbagai bidang. Potensi demografi dengan tersedianya sumber daya manusia yang tinggi, dan potensi sumber daya alam baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan dalam jumlah melimpah.  Sampai dengan tahun 2010, Indonesia masih merupakan salah satu produsen dengan berbagai komoditas penting seperti kelapa sawit, kakao, timah, nikel, bauksit, dll.

Walaupun segala potensi tersebut tersedia dalam jumlah yang besar, namun apabila tidak dikembangkan dengan baik tentu tidak akan menghasilkan apa-apa. Program industri hulu dan hilir yang berarti membenahi dari atas sampai bawah dikhususkan pada bidang material maju. Perekonomian Indonesia yang masih terfokus untuk mengumpulkan hasil alam, tidak optimalnya peningkatan nilai tambah produk, serta tidak meratanya laju pembangunan menjadi beberapa tantangan yang harus dibenahi kedepannya. 

Industri hulu meliputi penyedian material seperti besi, tembaga, emas, lalu berlanjut ke industri menengah penyedian prekursor kimia, industri hilir penyedian peralatan dan industri maju yaitu produk akhir."Sebuah negara dikatakan maju apabila dapat memproduksi material bagi negaranya," ujar Bambang.