H. S. Dillon Ph.D: Membingkai Masa Depan Bangsa dengan Nilai-Nilai Kasih Sayang

Akbar Syahid Rabbani | Senin, 24 - Maret - 2014, 07:05:39
Melihat pendapat yang diungkapkan oleh Whitehead (filsuf Inggris abad ke - 20) mengenai hakekat perguruan tinggi yang bertujuan untuk melestarikan kaitan antara ilmu dan gairah kehidupan dengan menyatukan kaum muda dan kaum tua dalam melakukan konstruksi pembelajaran secara imaginatif, H. S. Dillon melihat bahwa pengaruh terbesar dalam pembangunan bangsa seharusnya dilakukan oleh lulusan muda ITB yang mampu memadukan pengalaman yang didapatnya dengan imajinasi yang ada di dalam pikirannya. Pengaruh besar yang diharapkan dari lulusan muda ITB adalah kepeloporan, perjuangan dan pengabdian yang dapat terlihat pada pribadi para guru besar ITB.

Menurut Dillon, ITB harus mampu bermanifestasi menjadi vanegshwar yang bertugas untuk memanfaatkan alumni ITB sehingga mampu menjadi pelopor untuk mengatasi berbagai rintangan yang menghadang perjalanan bangsa Indonesia. Dalam usaha tersebut, dibutuhkan interaksi yang baik antara Gran Personae guru besar ITB dengan mahasiswa ITB itu sendiri untuk mencari kebenaran keilmuan dengan prinsip kasih sayang sehingga nilai-nilai yang diajarkan di ITB mampu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Prinsip-prinsip kehidupan seperti kesadaran tentang kesetaraan dalam kemanusiaan, posisi sebagai sahabat bagi seluruh manusia secara global, budaya kerjasama, bergotong royong dan menyatukan pergerakan dengan saudara setanah air merupakan beberapa hal utama yang harus diterapkan dalam kehidupan seluruh stake holder ITB. "Nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang bangsa Indonesia dengan penuh kasih sayang seperti silih asah, asih dan asuh adalah sebuah nilai yang harus diresapi agar alumni ITB mampu turut merasakan penderitaan rakyat Indonesia dan kemudian memberikan sumbangsih kongkret melalui ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Dillon. Dillon menyatakan bahwa nilai-nilai sebagai insan akademis sesungguhnya mampu menjadi landasan kokoh bagi alumni ITB untuk menjadi pelopor pembangunan bangsa Indonesia dengan tetap bersikap rendah hati.

Dengan perkembangan dan tuntutan globalisasi, sudah seharusnya ITB mampu menjadi peta jalan menuju Indonesia yang inovatif dan mampu memberikan pengaruh secara luas, baik itu bagi kalangan pemerintahan maupun rakyat Indonesia secara keseluruhan. Dillon mengungapkan bahwa ITB sebenarnya mampu mempersatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia, baik itu kalangan konglomerat sampai santri-santri yang ada di pesantren. Untuk mewujudkan hal tersebut dan menjadikan ITB memiliki pengaruh yang lebih besar, maka kerjasama twinning dengan perguruan tinggi terkemuka di dalam dan luar negeri adalah sebuah hal yang harus dilakukan. "ITB harus menjadi panutan paling efektif untuk menyebarkan kepercayaan diri dan optimisme bahwa bangsa Indonesia mampu mewujudkan Indonesia 2045 yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian. Saya percaya bahwa getaran kampus Ganesha yang semakin kuat mampu memberikan resonansi yang sama bagi semua gelombang sanubari masyarakat Indonesia dalam mengarahkan ilmu pengetahuan dan teknologi guna membingkai masa depan bangsa Indonesia yang lebih bermartabat," tutup Dillon.