Kembangkan Karakter Bangsa Dengan Ilmu Kemanusiaan

Ahmad Furqan Hala | Kamis, 20 - November - 2014, 21:17:17
Acara seminar yang dilaksanakan merupakan agenda tahunan KKIK-ITB. Dalam satu tahun, terdapat dua jenis seminar yang diadakan, yaitu seminar keilmuan pada sekitar bulan Juni-Juli dan seminar pengembangan karakter pada November. Rangkaian seminar pada tahun ini merupakan rangkaian seminar keempat yang dilaksanakan oleh KKIK-ITB. Seminar kali ini diketuai oleh Dr. Cecep Alba. Seminar tahun lalu mengangkat tema pengembangan karakter dosen untuk kemajuan pengajaran kemanusiaan di Indonesia, sedangkan pada tahun ini tema yang diangkat adalah pengembangan karakter dalam menyokong pembangunan karakter bangsa.

Seminar pengembangan karakter ini menghadirkan dua pembicara didampingi oleh satu moderator. Narasumber yang dihadirkan adalah Yudi Latief, M. A. Ph,D. dari Reform Institute dan  Dr. Agus Syihabudin, M. A. dari FSRD-ITB. Yang bertindak sebagai moderator adalah Dr. Dona Saphiranti, M. T. Seminar ini dilaksanakan dalam tiga sesi. Sesi pertama merupakan sesi bertajuk "Pengembangan Karakter Bangsa dalam Perspektif Agama" yang diisi oleh Dr. Agus Syihabudin. Sedangkan sesi kedua bertajuk "Humaniora Sebagai Basis karakter Kemajuan" yang diisi oleh Yudi Latief. Sesi ketiga diisi dengan tanya jawab dengan peserta seminar.

"Seminar yang dilaksanakan ini merupakan agenda yang sangat diperuntukkan bagi dosen-dosen pengampu mata kuliah kemanusiaan, baik dari ITB sendiri maupun universitas-universitas lain di Indonesia. Harapan akhirnya adalah materi seminar ini dapat disebarluaskan dan menjadi landasan untuk memperkuat kesiapan pengajaran mata kuliah kemanusiaan. Secara internal, KKIK melalui seminar ini mengajak civitas academica ITB untuk bersama-sama mengembangkan karakter ke arah yang lebih baik demi kemajuan bangsa Indonesia", kata Wawan Jatnika, ketua mata kuliah umum KKIK serta salah satu panitia seminar ini.


Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan-ITB

Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan (KKIK) merupakan salah satu kelompok keahlian di bawah Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. KKIK merupakan kelompok keahlian yang bertanggung jawab terhadap mata kuliah dasar umum (MKDU). Secara umum, terdapat dua jenis mata kuliah yang menjadi tanggung jawab KKIK, yaitu jenis mata kuliah wajib umum seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta Agama dan Etika. Sedangkan jenis mata kuliah lainnya adalah mata kuliah pilihan yang masih berhubungan dengan penulisan serta pengembangan karakter dan motivasi. Mata kuliah pilihan ini misalnya sosiologi pembangunan dan ekonomi pembangunan.

KKIK terbagi dalam tiga laboratorium. Yang pertama adalah laboratorium forensik, linguistik, seni sains dan teknologi. Laboratorium ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat untuk menerima teknologi. Laboratorium ini befungsi sebagai jembatan antara teknologi dan masyarakat, sehingga kemudian dapat ditentukan langkah selanjutnya untuk membantu masyarakat melalui teknologi tersebut.Laboratorium yang kedua adalah laboratorium genoliguistik. Laboratorium ini berfokus untuk mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi dan penyambung dalam kehidupan sehari-hari. Laboratorium ketiga adalah laboratorium asuransi dan audit seni, sains dan teknologi yang berfokus pada fungsi audit dan evaluasi mengenai keberterimaan teknologi di masyarakat.

"Secara yuridis, ITB sendiri memang bertindak sebagai kampus yang mengembangkan teknologi, sains, budaya serta kemanusiaan. Oleh karena itu, kelompok keahlian ilmu kemanusiaan inilah yang bertujuan untuk mengisi kekosongan di bidang kemanusiaan tersebut", kata Wawan Jatnika, Ketua Mata Kuliah Umum pada KKIK.

KKIK sendiri dikepalai oleh Dr. Ir. Dicky R. Munaf, MS. MSCE. Terdapat sekitar 39 dosen dan pegawai pada kelompok keahlian ini yang terbagi dalam tiga laboratorium yang telah disebutkan. Terdapat 10 dosen pada laboratorium forensik, linguistik, seni sains dan teknologi, 12 dosen pada laboratorium genolinguistik, 9 dosen pada laboratorium asuransi dan audit seni, sains dan teknologi, serta 8 pegawai administrasi dan jurnal sosioteknologi.