Prof. Dr. Adang Suwandi Ahmad : Knowledge Growing System, Terobosan Baru Kecerdasan Tiruan Kognitif

Syardianto | Kamis, 16 - April - 2015, 14:47:20

Berbeda dengan kebanyakkan orang berbicara, Prof. Dr. Adang Suwandi Ahmad menjabat Ketua Kelompok Keilmuan Elektronika Instrumentasi STEI ITB sekaligus Dekan STEI peride 2008-2012 ini menyatakan tidak setuju dengan istilah kecerdasan buatan. Pasalnya, manusia tidak punya kemampuan untuk menciptakan suatu kecerdasan, akan tetapi hanya bisa menirukan saja. Sehingga istilah 'kecerdasan' tiruan dianggap lebih pantas.

Kecerdasan manusia lebih dekat disebut sebagai proses kesadaran, sebuah proses mental yang mana sebuah pengetahuan diperoleh, sehingga diperlukannya suatu pemodelan kognitif. Pemodelan kognitif bertujuan untuk memodelkan cara berpikir manusia seperti belajar dan menyelesaikan masalah, yang bermuara ke sains kognitif dan teknik. Sains kognitif bertujuan untuk mengembangkan model komputer untuk memahami proses berfikir manusia sedangkan secara teknik bertujuan untuk meng-eksplor model komputer tersebut serta sebagai control multi-agent dari lingkungan psikologi manusia. Karenanya, penyatuan antara AI dengan model kognitif disebut sebagai Kecerdasan tiruan kognitif.


Knowledge-Growing System : Penemuan Baru di bidang AI


Kecerdasan tiruan kognitif atau dikenal dengan istilah Cognitive Artificial Intelligence (CAI) mengakibatkan mesin dapat menyimpan informasi yang terakumulasi tetap tersimpan dan terus berkembang seperti seorang manusia dari kecil sampai dewasa. Jika ia mempelajari suatu hal baru, hal-hal yang lama tentunya tidak dilupakan begitu saja, melainkan akan memperkaya pengetahuannya. Sederhananya, bila diterapkan pada perangkat elektronik, CAI menjadikan perangkat tersebut cerdas, yakni peka terhadap kondisi sekitarnya, dapat menganalisis dan mengambil kesimpulan dari informasi yang telah dikumpulkan, kemudian mengambil tindakan atas kumpulan informasi tersebut.

Proses bagaimana pengetahuan dihasilkan yang membuat manusia menjadi lebih pintar atau memahami fenomena yang sedang diamatinya menjadi inspirasi bagi  Prof. Adang bersama timnya di Cognitive Artificial Intelligent Research Group (CAIRG) STEI ITB. Sejak tahun 2006, mereka mencoba melakukan kombinasi pendekatan dalam kecerdasan tiruan, sains, dan teknologi kognitif dalam mengembangkan sistem yang menyerupai intelegensi manusia untuk aplikasi di dunia nyata. Kemampuan intelegensi manusia tersebut berfusi dan diaplikasikan dalam  menentukan suatu keputusan penemuan sistem yang dinamakan pengetahuan bertumbuh (knowladge growing). Pengetahuan yang tumbuh bersama dengan informasi baru diartikan sebagai pengetahuan yang telah ada tidak hilang melainkan berfusi dengan informasi baru yang didapat.


Nemberala: Aplikasi Knowledge-Growing System pada Listrik Teknologi Hibrid


Salah satu penerapan teknologi cerdas ini adalah pada Pembangkit Listrik Hybrid Nemberala di Desa Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Sejak dibangun, keberadaan Pembangkit Listrik Nemberala mampu menghemat penggunaan bahan bakar minyak hingga Rp2.2 milyar hingga akhir tahun 2008. Sebelumnya warga setempat menggunakan solar sebagai sumber energi untuk keperluan listrik sehari-hari dan penunjang  infrastuktur. Jadwal penggunaan sumber energi untuk pembangkit listrik dibagi oleh sistem berbasis CAI yang menganalisis keadaan lingkungan serta generator pembangkit listrik itu sendiri. Dari informasi yang dihimpun, selanjutnya dapat diatur kapan pembangkit listrik akan  menggunakan tenaga angin, sinar matahari, atau BBM (Bahan Bakar Minyak). Dengan adanya sistem ini sumber energi alternatif yang ada dapat dimanfaatkan lebih optimal, sehingga ketergantungan akan BBM bisa diminimalisir.

"Inputan data untuk tenaga surya berasal dari Photovoltaic sedangkan energi angin dari turbin angin, Energi fosil (Diesel) berasal dari generator, Load Supply, dan kapasitas energi baterai, Informasi tersebut direkam oleh data logger," tutur Prof. Adang, dosen yang memperoleh gelar professor di bidang Intelligent Electronics Instrumentation System pada tahun 2000.
"Dari informasi tersebut agen AI berperan. Dengan menerapkan knowledge-growing system dari waktu ke waktu, kita dapat menentukan kapan energi surya dan angin digunakan, kapan energi fosil digunakan, atau kapan energi hybrid digunakan dalam periode detik, menit, jam, hari, sampai bulan agar suplai energi listrik optimum. Pengunaan KGS dalam teknik biomedis juga dapat digunakan untuk mengamati gen apa yang menyebabkan penyakit atau kelainan dalam tubuh manusia," ungkap Prof. Adang.
 
Indonesia Harusnya Bisa


Menurut Prof. Adang, pendidikan tinggi teknik di indonesia belum memberikan kontribusi maksimal dalam menghasilkan produk karya inovasi. Padahal lulusan teknik dituntut untuk menghasilkan inovasi produk yang tidak cukup hanya pemahaman ilmu saja. Hal ini dikarenakan industri dalam negeri belum siap untuk menerima ide-ide inovasi teknologi karya anak bangsa dan cenderung untuk membeli  produk jadi dari luar negeri. Sebagai contoh, ketika ingin bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk uji coba penerapan CAI, masih banyak perusahaan yang menolak bekerja sama karena mereka hanya ingin membeli produk jadi yang telah teruji.

Apabila keperluan teknologi Indonesia dapat dipenuhi dari dalam negeri, tentunya perekonomian Indonesia akan lebih maju. Selain itu, Prof. Adang menuturkan bahwa masih banyak kebijakan industri yang tidak mendukung industri dalam negeri.
"Perlu adanya kebijakan dari pemerintah agar fokus membangun industri dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan kita," tegas Prof. Adang.

 

 

 

Sumber gambar : http://www.lppm.itb.ac.id/research/?p=1516


Peliputan Oleh :
Fikri Rozi, Apresio Kefin, dan Widyandita Ghiamadhura
ITB Journalist Apprentice 2015